Sabtu, 27 November 2010

pengertian ganja


Ganja (cannabis) adalah obat depresan terbuat dari daun tanaman cannabis. THC (Delta 9 tetrahidrokanibinol) adalah salah satu dari 400 zat kimia yang ditemukan di dalam ganja  dan yang menyebabkan efek perubahan suasana hati. Sebagai obat depresan, ganja memengaruhi sistem saraf dengan memperlambat aktivitas otak.
Ganja hadir dalam berbagai bentuk. Ganja adalah tembakau hijau-seperti campuran daun. Hasis dan minyak hasis adalah bentuk yang lebih kuat dampaknya dari ganja. Hasis adalah hasil lelehan dari tanaman yang dijual dalam bentuk minyak atau blok kecil hasil pemadatan. Ganja mempunyai beberapa nama populer seperti dele, daun, cimeng, Pot, Weed, dan lain-lain.

ganja aceh

Aceh dari dulu sudah terkenal sebagai produsen terbesar ganja di Asia Tenggara, bahkan klaim "Daun surga Aceh" bagi ganja tersebut makin kental didengar pada level nasional dan internasional.
Hampir disetiap jengkal belantara Aceh dihiasi tanaman ganja. Menjamurnya tanaman yang dilarang di Indonesia tersebut, sangat didukung kondisi geografis, tanah subur, hujan teratur, dan posisi pegunungan dengan iklim yang relatif stabil, ditambah lagi keterisolasian akibat konflik yang berkepanjangan dari sejak zaman penjajahan kolonial Belanda, pemberontakan DI-TII hingga GAM.
Pemerintah Aceh telah melarang penanaman ganja bagi masyarakat Aceh dan diganti dengan tanaman palawija dan tumbuhan lainnya. Program tersebut telah dicanangkan di Lamteuba, Aceh Besar, dengan menanam berbagai jenis tumbuhan lain.
Di balik harumnya tanaman ganja, ternyata memiliki banyak manfaat dan menyimpan sejuta kisah lain. Namun, ganja di Aceh hanya dikenal karena penyalahgunaannya (abuse) saja, yaitu dengan menghisap atau mengkonsumsinya saja. Sementara di luar negeri sana, tanaman ajaib ini sangat populer dan menjadi bagian dari hidup. Seperti bagi masyarakat Hindu India yang menggunakan ganja dalam ritual penyembahan terhadap Dewa Siwa. Begitu juga kaum Rastafarian di Jamaika yang sangat mengagungkan ganja dan dapat mendekatkan diri dengan Tuhan karenanya.
Di Aceh, ganja juga sudah menjadi bagian dari hidup. Masyarakat setempat, khususnya masyarakat yang menanami ganja, dengan keterbatasan teknologi dan sejuta keterpurukan lainnya, mengolah ganja secara tradisional. Dengan pengetahuan yang ada, masyarakat daerah meramunya menjadi bahan konsumsi sehari-hari.
Hampir tak ada orang Aceh yang tak pernah mencicipinya, ada yang menikmatinya melalui rokok, bumbu dapur, dodol, campuran kopi, hingga diolah ke berbagai jenis makanan lainya, selebihnya dijual ke luar Aceh.
Menurut sejarahnya, ganja dibawa ke Aceh dari India pada akhir abad ke 19 ketika Belanda membuka perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo. Pihak penjajah itu memakai ganja sebagai obat alami untuk menghindari serangan hama pohon kopi atau ulat pada tanaman tembakau.
Walau Belanda yang membawanya ke dataran tinggi Aceh, namun menurut fakta yang ada, tanaman tersebut bukan berarti sepenuhnya berasal dari negaranya. Bisa jadi tanaman ini dipungut dari daratan Asia lainya. Di kalangan anak muda nusantara, ganja lebih familiar disebut bakong ijo, gelek, cimeng atau rasta. Sementara sebutan lainnya ialah tampee, pot, weed, dope.
Setelah bertahun-tahun dan tumbuh menyebar hampir di seluruh Aceh, ganja mulai dikonsumsi, terutama dijadikan 'rokok enak,' yang lambat laun menjadi tradisi di Aceh. Bahkan kalau ada masakan, dianggap belum sempurna kalau bumbunya tidak dicampur dengan biji ganja. Tradisi ini memang sulit dihilangkan.

sejarah om iwan selama di penjara

Virgiawan Listianto yang populer dengan nama Iwan Fals dikenal sebagai
‘wakil rakyat’ yang lantang menyuarakan seruan hati para wong cilik.
Sepanjang karirnya selama kurang lebih 20 tahun di dunia musik ia telah
terbukti memiliki kelompok penggemar khusus yang dekat dengan
kemiskinan, ketidakadilan dan pengangguran. Lagu-lagunya kerap
dihubungkan dengan protes-protes sosial seperti pernah terkenal lewat
Oemar Bakrie (1981) dan Bento (1991). 

Nama besar yang
disandangnya saat ini dicapainya setelah melalui jalan penuh kerikil
dan berdebu di bawah hujan dan terik matahari dalam komunitas ‘pengamen
jalanan’. Pria yang diberi julukan “Pahlawan Besar Asia” menurut
majalah Time Asia edisi 29 April 2002 ini mengalami banyak perubahan
selama enam tahun terakhir.


Kepergian anak pertamanya, Galang Rambu Anarki (almarhum),
April 1997, seorang gitaris yang baru saja meluncurkan album perdananya
di usia 15 tahun, membuatnya semakin menghargai posisinya sebagai
seorang ayah yang harus menjaga, mendidik, dan memelihara anak-anaknya.
Rasa cintanya kepada dua anaknya, Annisa Cikal Rambu Basae dan Rayya
Rambu Robbani, adalah pengobar semangat di usianya yang kini sudah
berkepala empat.


Iwan Fals yang pernah memperoleh Juara II Karate Tingkat
Nasional, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP
(Sekolah Tinggi Publisistik) sehari-harinya dipanggil Tanto. Ia lahir
pada 3 September 1961 di Jakarta dalam keluarga besar yang taat
beragama. Dari sembilan bersaudara, empat meninggal dunia. Semenjak
kecil Iwan sering diajak ibunya, Lies Haryoso, mengikuti berbagai
kegiatan sosial. Kini, ibunya masih aktif mengurusi sebuah yayasan
sosial miliknya yang menampung anak-anak tidak mampu dan menyantuni
orang-orang jompo. Yayasan sosial `Hairun Nissa' yang didirikannya
tahun 1986, kini menyantuni 213 anak dalam panti, 90 anak non panti,
dan 313 orang tua jompo. 

Semenjak kecil Iwan sudah berjiwa sosial dan sangat perhatian kepada
teman-temannya. Itu semua terbukti ketika Iwan dengan murah hati
memberikan pakaian yang dia pakai dan sepatu baru yang harganya mahal
kepada temannya yang membutuhkan. Meskipun cerdas, di sekolah Iwan
biasa-biasa saja karena waktunya habis untuk mengembangkan bakat
seninya dalam mencipta lagu, memainkan gitar, harmonika dan piano. 

Menginjak usia 13 tahun, Iwan mulai mengamen di Bandung. Sama seperti
anak SMP lainnya, Iwan suka memperhatikan teman-temannya yang sering
memainkan gitar sembari nongkrong menghabiskan waktu. Tidak mau kalah
dengan temannya, Iwan mulai belajar gitar sedikit demi sedikit. Suatu
kali ia pernah mencoba memainkan gitar temannya, namun bukan pujian
yang diterima melainkan omelan karena senar gitar itu dibuatnya putus. 

Gitar
seakan-akan sudah menjadi sahabat yang tak terpisahkan bagi Iwan.
Bahkan ketika ia bersekolah di KBRI, Jedah, Arab Saudi, selama 8 bulan,
gitar menjadi teman penghibur di kala sepi datang menghadang. Dalam
perjalanan pulang dari Jedah ketika musim haji, Iwan mendapat
pengalaman yang unik. Seorang pramugari mengajarinya menyanyikan lagu
Blowing in the Wind Bob Dylan dan membantu menyetem gitarnya yang fals.


Karena ingin tampil beda dan menarik perhatian teman-temannya
yang suka memainkan lagu-lagu Rolling Stones, Iwan yang juga menjadi
pemain gitar di vokal grup sekolahnya SMP 5 Bandung mencoba mengarang
lagu sendiri. Ia membuat lagu yang liriknya lucu, bercanda, bahkan
mengutak-ngatik lagu orang. Ulahnya ini tentu membuat teman-temannya
tertawa terpingkal-pingkal.

Bersama Engkos, manajernya yang
berprofesi sebagai tukang bengkel sepeda motor, Iwan mulai menyanyi di
berbagai acara hajatan, kawinan atau sunatan. Kesibukan barunya dengan
gitar sembari mencari teman dan memperluas pergaulan membuat ia sering
membolos lalu pindah sekolah. Lagu Iwan sempat direkam dan diputar di
Radio 8 EH namun radio ini akhirnya dibredel.

Waktu terus
berjalan sementara lagu-lagu Iwan mulai terkenal, tidak hanya di
Bandung tetapi juga di Jakarta. Karena tertarik dengan ajakan seorang
produser, Iwan yang masih bersekolah di SMAK BPK Bandung, pergi ke
Jakarta bersama teman-temannya dari Bandung, yakni Toto Gunarto, Helmi,
Bambang Bule yang tergabung dalam kelompok Ambradul untuk masuk dapur
rekaman dengan bekal uang hasil penjualan sepeda motor Iwan. Namun,
penjualan album tersebut kurang sukses di pasaran.

Setelah
rekaman ini, Iwan kembali mengamen dan ikut berbagai festival. Ia
sempat menjuarai festival musik country lalu mengikuti festival lagu
humor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor Iwan direkam dan
diproduseri oleh Handoko di bawah bendera perusahaan ABC Records. Dalam
rekaman ini Iwan ditemani oleh Pepeng (pembaca acara kuis Jari-jari),
Krisna, dan Nana Krip. Album ini pun bernasib sama dengan album rekaman
sebelumnya yang hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak
muda.

Rupanya pintu kesempatan belum tertutup bagi Iwan. Setelah
sempat rekaman sekitar 4-5 album, nama Iwan akhirnya melejit di tangan
Musica Studio yang kemudian menghasilkan album-album karyanya, seperti
Sarjana Muda, album solo perdananya, yang aransemen musiknya dimotori
oleh Willy Soemantri, album 1910, album Mata Dewa, yang meledak di
pasaran. Walaupun nama Iwan Fals sebagai penyanyi dan musisi semakin
populer, banyak orang hanya tahu nama namun tidak kenal wajah karena
Iwan baru masuk televisi setelah tahun 1987 padahal rekaman pertamanya
dilakukan tahun 1979, waktu itu usianya masih 18 tahun.

Meskipun
sudah masuk dapur rekaman dan albumnya diterima oleh pasar, Iwan
diam-diam masih mengamen dari rumah ke rumah, acara hajatan dan
sunatan, sembari sekali-sekali di Pasar Kaget, Blok M karena ia harus
menghidupi keluarganya. Ia juga sekali-sekali memanfaatkan mobil colt
abu-abu miliknya untuk menarik penumpang sepulang dari studio.

Pada
awal 1982, isteri Iwan, Rosana, melahirkan anak pertama, Galang Rambu
Anarki di tengah keadaan ekonomi yang sedang sulit. Meskipun demikian,
Iwan tetap bersyukur dengan membuat lagu khusus berjudul Galang Rambu
Anarki sama dengan nama anaknya. Selama 3 tahun selanjutnya Iwan masih
mengamen. Baru tahun 1985, setelah anak keduanya lahir, Anissa Cikal
Rambu Basae, Iwan memutuskan berhenti total dari mengamen.

Di
masa Orde Baru, lagu-lagu Iwan sempat dicekal dan ia dilarang melakukan
pertunjukan di beberapa daerah. Pada 1984 ia mendapat masalah karena
lagunya yang berjudul Mbak Tini. Lagu ini berkisah tentang Mbak Tini,
seorang pelacur yang membuka warung kopi di pinggir jalan dan mempunyai
suami bernama Soeharto, seorang supir truk. Oleh pihak yang berwenang
waktu itu, lagu tersebut dianggap menghina presiden RI, Soeharto.
Akibatnya, Iwan terancam bakal masuk penjara. Padahal, menurut Iwan,
lagu tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Soeharto dan
istrinya, (mendiang) Tien Soeharto.

Dalam mencipta lagu, Iwan
mendapat inspirasi dari koran, televisi, keadaan sekitar dan alam. Saat
rezim Orde Baru menghadapi detik-detik ketumbangannya, misalnya, ia
membuat lagu berjudul Kamu Sudah Gila, Apa Kamu Sudah Jadi Tuhan?
Sedangkan lagunya Belalang Tua diilhami oleh seekor belalang yang
bergayut di selembar daun selama berhari-hari di kebun miliknya.

Setelah
album Orang Gila (1993), Iwan, yang sempat kuliah di Lembaga Pendidikan
Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) menghilang selama
kurang lebih 10 tahun dari hingar bingar industri rekaman. Dalam kurun
waktu itu, Iwan bergabung dengan berbagai kelompok, yakni Swami, Dalbo,
Kantata Takwa, dan Kantata Samsara. Kolaborasinya itu melibatkan
beberapa musisi dan budayawan ternama, seperti Setiawan Djody, Sawung
Jabo, WS Rendra, dan Jocky Suryoprayogo.

Iwan juga melakukan
beberapa kerjasama di luar kelompok tersebut, di antaranya melahirkan
album Anak Wayang (bersama Sawung Jabo), Terminal dan Orang Pinggiran
(bersama Franky Sahilatua), serta Mata Hati (bersama Bobby Erres). Baru
pada tahun 2002, Iwan mengeluarkan album berjudul Suara Hati, sebuah
album comeback yang betul-betul merupakan hasil karyanya bersama
grupnya.

Pada 18 Juni 2003 yang lalu, Iwan bersama isterinya,
Mbak Yos, yang juga merangkap sebagai manajernya baru saja melempar
album baru di bawah bendera Musica Studio berjudul Iwan Fals: In
Collaboration With, yang kebanyakan berisi lagu-lagu cinta. Dari 10
lagu, kecuali Rinduku karya Harry Roesli, lima lagu lainnya dibuat oleh
pencipta-pencipta lagu muda, yaitu Pongky "Jikustik" (Aku Bukan
Pilihan), Eross "Sheila on 7" (Senandung Lirih), Piyu "Padi" (Sesuatu
yang Tertunda), Azis MS "Jamrud" (Ancur) dan Kikan "Cokelat" (Sudah
Berlalu) sedangkan empat lagu lainnya, diambil dari album Suara Hati,
yaitu Kupu-kupu Hitam Putih, Belalang Tua, Suara Hati dan Hadapi Saja
yang semuanya diaransemen ulang.

awal mulanya gw suka Five Minutes

Setiap orang pasti kalo suka sama satu band, mereka punya alasan kenapa dia suka band itu, dan alasan gua suka five minutes itu kenapa yaa?? bingung ni gua. hhaha
Awalnya sih cuma gara-gara maenan ABC 5 DASAR, ceritanya tuh gini, dulu pas gua MTS agi jaman-jamannya tuh maenan ABC 5 DASAR, pas itu gua lagi maenan sama sodara gua, gara-gara gua engga tau nama band dari "F" apa, makanya sodara gua ngasih tau katanya ada tuh band namanya "FIVE MINUTES" (dulu gua engga tau band itu, ehh skarang dah kena syndrom fm. hhaha)
Pas besok paginya, gua nonton tipi tu, engga tau dah chanel apaan. Nah, disitu gua ngeliat video clip Five Minutes "Bertahan". Terus gua liat-liatin kok orang-orangnya kereen-kereen. haha
kapan ya gua bisa foto bareng sama mereka??
ngareeeep .. hehehehe

five minutes terancam BUBAR

Five Minutes" Kembali Terancam Bubar





GRUP musik "Five Minutes" dikabarkan bubar, baru-baru ini. Terbetik kabar, keretakan grup yang digawangi empat personel, yaitu Ricky (keyboard), Sani (Vocal), Drie (Bass), dan Sonny (gitar) disebabkan penyanyi Ari Lasso. Pasalnya, seorang personel Five Minutes, Ricky yang menjadi additional player di band Ari Lasso. Dan dia lebih memfokuskan diri di band itu, sehingga Five Minutes terbengkalai. Sebelumnya, grup ini juga pernah disambar gosip serupa ketika pemain drumnya mengundurkan diri beberapa tahun silam.

Band yang terbentuk pada 1994 itu membantah kabar tersebut. Menurut mereka, meski sudah dua tahun bermain untuk Ari Lasso Band, Ricky tak pernah melupakan tanggung jawabnya di Five Minutes. "Sebenarnya nggak ada masalah apa-apa. So far so good lah," ujar seorang personel Five Minutes. Padahal, Sani agak kecewa dengan Ricky yang bermain di dua band. "Secara jujur saja saya kecewa," ujar Sani.

Mendengar masalah ini, Ari Lasso kaget. Setahu dia, Five Minutes baik-baik saja dan sedang mempersiapkan album terbaru mereka. "Waduh, saya jadi merasa nggak enak," ujar bekas vokalis grup musik "Dewa" ini. Menurut Ari, selama ini ini grupnya tak pernah memaksakan kehendak kepada pemain bandnya. "Komitmen kita menghormati rumah mereka masing-masing. Kita bener-bener batasannya profesional saja," kata Ari yang mengatakan Ricky sangat profesional.

Masih seputar informasi grup musik di Indonesia. Dimensi Band meluncurkan album kedua mereka yang bertajuk "Yang", baru-baru ini. Band asal Bandung, Jawa Barat yang punya komitmen memerangi pembajakan ini punya cara unik dalam menjual album mereka. Mereka mendistribusikan album itu lewat pesanan dari kafe-kafe dan stasiun radio di Tanah Air. Hingga kini, sebanyak 36 kafe di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi telah menjadi langganan mereka.
Five Minutes adalah sebuah band pop rock yang berasal dari Kota Kembang Bandung berdiri tahun 1994. Kini, Five Minutes digawangi oleh Ricky Tjahyadi (keyboard), Richie Setiawan (vokal), Drie Warnanta (bass), Roelhilman (gitar), dan Aria Yudhistira (drum).

FORMASI AWAL
Drie dan Ricky bertemu di awal tahun 1990-an dan sempat membentuk band yang tampil di sejumlah kafe. Namun band ini hanya bertahan selama 2 tahun. Mereka kemudian membentuk Five Minutes bersama Sonny (gitaris) dan Sanny (vokalis) di tahun 1994 untuk mengikuti Fetival Band Se-Jabar DKI di Bandung. Dalam ajang tersebut mereka berhasil menjadi juara 1 dari 102 peserta. Tak lama, mereka pun masuk dapur rekaman. Album perdana mereka bertajuk Five Minutes (1996), yang diikuti oleh Five Minutes 2 (1997), Ouw! (2002), Sekat (2003), dan The Best +5 (2004). Penampilan yang unik dengan mengenakan sarung di panggung, menjadi salah satu daya tarik mereka.

FORMASI BARU
Setelah album The Best, Sanny sang vokalis dan Sonny (gitaris) mengundurkan diri. Ricky dan Drie pun berburu personel baru. Akhirnya Richie (vokal), Roelhilman (gitar), dan Aria Yudhistira (drum) melengkapi formasi Five Minutes yang baru. Pada bulan Juni 2007, mereka merilis album baru bertajuk Rockmantic. Mereka pun menanggalkan sarung yang selama ini lekat sebagai image mereka.[1]

DISKOGRAFI
Five Minutes (1996)
Five Minutes 2 (1997)
Ouw! (2002)
Sekat (2003)
The Best +5 (2004)
Rockmantic (2007)
Rockmantic (Repackaged) (2008)

TRIVIA
Fiver's adalah sebutan untuk penggemar setia Five Minutes

Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Five_Minutes
Sekedar Info, bagi yang mau kursus bahasa inggris hanya 75 ribu sampai tamat, materi berupa dvd audio, jadi tidak perlu pergi kursus, cocok untuk orang sibuk, selengkapnya kunjungi www.my-toserba.cz.cc

Jumat, 26 November 2010

legend indonesia

wan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia. Lewat lagu-lagunya, Iwan menggambarkan suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti lagu Wakil Rakyat dan Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya lagu Siang Seberang Istana dan Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti lagu Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya.


Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.



Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang dinamakan Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals.